Ayam Tangkap
“Alah hai kak. Lama kali kau goreng manok nyan. Ayamnya ditangkap dulu apa?“

Ngupie
Kalau kalian pernah berkunjung ke Aceh atau mengunjungi komunitas Aceh di suatu tempat. Kalian pasti suka temui mereka sedang duduk-duduk mengobrol santai sambil jeb ie kupi dan main batee. Dari perilaku tersebut Acehnese memang terkesan santai bahkan ada yang menganggap malas.
Namun, di sisi lain ureung Aceh pun memiliki momen tidak sabaran, ingin bergerak cepat. Percakapan di pembuka notes ini merupakan salah satu kisah asal-usul penyebutan menu makanan yang kini disebut Ayam Tangkap. (Menu makanan ini populer pasca tsunami. Nama lain Ayam Tangkap adalah Ayam Tsunami). Gak sabarannya mereka itu akhirnya menyebabkan beberapa rumah makan menyediakan menu jadi, pelanggan tanpa perlu menunggu makanan diolah. Contohnya yang membedakan dengan di Jakarta adalah bu goreng. Di Jakarta kita perlu menunggu paling cepet 15 menit untuk menyantapnya.
Ureung Aceh memang terkesan santai kayak di pantai, slow kayak di pulau. Namun ada kalanya kita akan tiba2 tak sabaran, tiba2 bergerak menghentak, dan kemudian bisa perlahan calm down kembali. Bisa kalian perhatikan sifat ini pada gerak seni tari, Tari Saman dan beberapa tarian lainnya.
Begitu pula filosofi kami saat melawan penjajah Belanda, awalnya kami terbuka, santai menerima kedatangan Belanda. Namun apabila diusik, jangan tanya, kami akan menunjukkan sisi jatidiri kami, “melawan” menunjukkan dan mempertahankan harga diri.
Glossary
Manok nyan= ayam itu
Batee=gaplek batu, bentuknya kayak mahjong
Ureung Aceh= Acehnese= Orang Aceh
Jeb Ie Kupi= minum air kopi
Bu Goreng= nasi goreng
Ayam Tangkap diolah seperti ayam goreng lainnya. Yang membedakan adalah Ayam Tangkap digoreng bersama Daun Pandan dan Daun Teumurui. Daun ini pun ikut dimakan nantinya. Enak disantap saat garing.







