My WordPress Blog
My Twitter
Google Profile
Facebook Account

Berhubung ni malem gue lagi gak bs tidur. Ijinkan saya mauu iseng nulis apa yang ada di kepala. (lah?? Ini kan wp gue. Gak perlu ijin2 segala).
Sebenarnya alesan memilih judul tersebut karena gue hari sabtu kemaren baru ngasih materi tali temali buat ca’ang bkp mapokal 2011. Sebagai pemateri gue diminta mengisi CV sederhana. Berisi: nama, pengalaman terakhir bergiat di mapokal, perjalanan terakhir, kegiatan sekarang daaan MOTTO HIDUP.
Isian terakhir ini yang selalu buat gue galau. tsaaah..
Bisa dibilang motto hidup gue kalo diminta ngisi2 ini akan selalu berubah2. Pernah gue tulis hal yg rada cliche: “hidup seperti air, mengalir apa adanya”, “hidup dengan selalu berpikir positif”, dll. Lo tau apa yg gue isi di form itu kemaren? “Dari tanah kembali ke tanah”. Ini apa yang terlintas begitu aja di kepala gue, yang kebetulan suka menelusur goa.
Bisa dibilang, motto hidup menurut pengertian gue adalah bagaimana lo akan menjalani dan menanggapi kerasnya kehidupan di dunia yang fana ini. Kalo ngomongin tentang bagaimana berarti kita ngomongin cara menanggapi suatu kehidupan. Seperti pada “hidup seperti air”: cara lo menjalani hidup ya mengalir, mau kemana hidup lo ya mengalir sebagaimana adanya. Ikutin aja alurnya, maka kau kan menemukan muara hidup mu.
Motto hidup itu biasanya singkat jelas padat. Macam tagline suatu produk gitu deh. Polemik gue setiap memberi motto hidup itu adalah gue ga cuma punya 1 cara dan cara gue selalu berubah-ubah. Ada yang bilang: “tulis aja semuanya kan motto hidup ga harus pendek”. Laah??? Sekalian aja lu buat karangan bebas.
Okeh, sampai di sini semoga lu paham kenapa gue selalu mengisi field motto hidup pada suatu form dengan berbeda-beda.
eh eh, ini postingan pertama gue pake app wordpress for android looh.. *norak*
“Alah hai kak. Lama kali kau goreng manok nyan. Ayamnya ditangkap dulu apa?“

Ngupie
Kalau kalian pernah berkunjung ke Aceh atau mengunjungi komunitas Aceh di suatu tempat. Kalian pasti suka temui mereka sedang duduk-duduk mengobrol santai sambil jeb ie kupi dan main batee. Dari perilaku tersebut Acehnese memang terkesan santai bahkan ada yang menganggap malas.
Namun, di sisi lain ureung Aceh pun memiliki momen tidak sabaran, ingin bergerak cepat. Percakapan di pembuka notes ini merupakan salah satu kisah asal-usul penyebutan menu makanan yang kini disebut Ayam Tangkap. (Menu makanan ini populer pasca tsunami. Nama lain Ayam Tangkap adalah Ayam Tsunami). Gak sabarannya mereka itu akhirnya menyebabkan beberapa rumah makan menyediakan menu jadi, pelanggan tanpa perlu menunggu makanan diolah. Contohnya yang membedakan dengan di Jakarta adalah bu goreng. Di Jakarta kita perlu menunggu paling cepet 15 menit untuk menyantapnya.
Ureung Aceh memang terkesan santai kayak di pantai, slow kayak di pulau. Namun ada kalanya kita akan tiba2 tak sabaran, tiba2 bergerak menghentak, dan kemudian bisa perlahan calm down kembali. Bisa kalian perhatikan sifat ini pada gerak seni tari, Tari Saman dan beberapa tarian lainnya.
Begitu pula filosofi kami saat melawan penjajah Belanda, awalnya kami terbuka, santai menerima kedatangan Belanda. Namun apabila diusik, jangan tanya, kami akan menunjukkan sisi jatidiri kami, “melawan” menunjukkan dan mempertahankan harga diri.
Glossary
Manok nyan= ayam itu
Batee=gaplek batu, bentuknya kayak mahjong
Ureung Aceh= Acehnese= Orang Aceh
Jeb Ie Kupi= minum air kopi
Bu Goreng= nasi goreng
Ayam Tangkap diolah seperti ayam goreng lainnya. Yang membedakan adalah Ayam Tangkap digoreng bersama Daun Pandan dan Daun Teumurui. Daun ini pun ikut dimakan nantinya. Enak disantap saat garing.
Orang tua yang menelantarkan anaknya bisa dipenjara?
Kalo dipenjara, yang ngurus anaknya siapa? Negara?
seek, rame-rame dah nanti ortu nelantarin anaknya..
Jelas-jelas wong yang nelantarin anak itu termasuk pihak yang ga sanggup melihara atau menganggap si terlantar adalah hasil yang ga diinginkan..
Koq ga ada win-win solution? Cape deh..
Orang tua, anggaplah kami sebagai manusia.. Kami muak, dengan ketidakadilan dan keserakahan..
lyric by iwan fals
catatan ini terinspirasi dari berita di stasiun tv x, tanggal sekian (alias gw lupa, haha..)
Indah nian bukan? Tapi jangan salah looh, di gunung ini ada sekitar 120 ton sampah!
1. Oxygen bottles (used)

Trash, especially from abandoned equipment like oxygen cylinders, is a huge problem at Mount Everest. Here Appa Sherpa, who has climbed Everest 11 times, looks at some cylinders collected by the Nepalese government.
2. Old tents and tent poles
3. Toilet paper (used)
4. Cardboard boxes
5. Plastic bags
6. Cereal packets
7. Tins, jars and glass bottles
8. Old syringes and needles
9. Baseball bats and frisbees
10. Gas cylinder (far cooking stoves)
11. A crashed helicopter
12. Dead bodies (some still clipped onto ropes) it’s true!

The petrified, frozen remains of climber George Leigh Mallory lie on a slope of Mount Everest. The lost mountaineer's remains were found 75 years after he and fellow climber Andrew Irvine disappeared in 1924 trying to reach the summit.
Sumber gambar:
Ganeri, Anita. Freaky peaks . London: England Scholastic Children’s Books, 2001 .
komentar mereka